Cinta sebatas Ojek 1

cerpen :

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi.Tuti dengan ekspresi cemas diiringi rasa gelisah berdiri di depan pintu kelas sembari bertanya-tanya pada hati kecilnya

“kenapa dia belum datang juga”?.

Tiba-tiba dari ujung lorong kelas muncul lah seorang pria bersragam sekolah di lapisi jaket berwaran silver,memakai helm berwarna biru melangkah dengan senyuman manis di wajahnya.Hati Tuti akhirnya plong juga.

“selamat pagi Tuti?” sapa pria yang yang Ia nanti

.”selamat pagi juga Sofyan” jawab Tuti sambil senyum-senyum kemerahan di pipinya.

Bell tanda masuknya jam pelajaran telah berbunyi.Tuti dan Sofyan masuk ke dalam kelas.Di dalam kelas Sofyan memerhatikan Tuti terus,sampai-sampai ia tak memerhatikan apa yang di terangkan gurunya.Ya,memang Sofyan telah jatuh cinta pada Tuti,pandangan matanya tak pernah berpaling ke Tuti,kecuali Guru memperhatikan dirinya.Bell tanda waktu Istirahat bunyi.Kantin di penuhi oleh lautan siswa dan siswi,

“mau ke kantin yah?” tanya Sofyan pada Tuti.
“iya emangnya knapa?” jawab Tuti.

“Barengan ama aku yuk”.tutur Sofyan.

“Boleh,Ayo” jawab kembali Tuti

.mereka pun selalu bersama pada saat di sekolah.Teman-teman sekelilingnya pun mendukung mereka berdua.

“udah,tembak aja”nanti ada yang ambil loh.Saran seseorang pada sofyan

.Tak di sangka saran dari salah seorang teman tadi,sangat membekas di fikiran Sofyan ia tak mampu lepas dari kata-kata itu.Akhirnya dengan persiapan yang matang Sofyan menembak Tuti.Tuti tak perlu berfikir panjang untuk menerima tawaran Sofyan.Akhirnya merekapun  berpacaran.Tampaknya dua si Joli ini benar-benar di mabuk cinta,tiada hari tanpa saling smsan,telfonan dsb.Hingga tiba waktunya Tanpa di sengaja Tuti bertemu kembali dengan mantan pacaarnya.setelah kejadian itu Tuti seakan melupakan sofyan,ia telah jatuh cinta kembali pada “sang mantan”.Sms dari sofyan,telfon dari Sofyan tak di balasnya,ia hanya sibuk dengan sang mantan Ancha.Sofyan mulai curiga kepada

Tuti,”Tuti kamu cinta,nggak sma aku?” tanya sofyan

.”ya iyalah aku cinta banget sama kamu” jawab tuti

.”cius” kata sofyan

.”cius sayang” jawab tuti.jawaban dari Tuti sedikit menutupi rasa curiga sofyan.

***

Dua minggu berjalan usia hubungan mereka,selama itu pula sofyan di kelabuhi oleh Tuti,sesekali rasa curiga menghampiri perasaan sofyan,tapi slalu dibuangnya jauh-jauh demi kelangsungan hubungannya dengan Tuti.Di balik kesabaran Sofyan,Tuti menikmati perannya sebagai Pacar dua lelaki sekaligus Sofyan dan Ancha.yah Tuti dan Ancha telah CLBK tanpa sepengatahuan Sofyan.Kabar tentang diduakannya sofyan oleh Tuti telah tersebar di sekolah.

“tut,emang benar yah kamu menduakan sofyan?” tanya salah seorang teman.

“loh,kok kamu bilang gitu?”jawab tuti sambil kaget.

“lah,bukannya berita ini sudah tersebar di sekolah”.ujarnya

“oh.iya,Jujur yah ku katakan kalau aku itu nggak cinta ama sofyan,dia itu hanya aku anggap sebagai tukang ojekku saja,yang datang menjemput dan mengantar aku pulang dari sekolah”.jawab tuti dengan santainya.

“astagfirullah..tuti..tuti.”kata temannya sambil menggeleng-geleng.

dimana-mana yang namanya bangkai pasti akan tercium baunya.Itulah yang dialami Tuti.
sofyan mengetahui semuanya.dengan hati yang tersayat-sayat ia datang dan melabrak Tuti.Hati sofyan sangatlah hancur melihat orang yang ia cintai menduakan dirinya dan menganggapnya hanya sebagai tukang ojek yang mengantarkannya Pulang dan Pergi dari sekolah.

 

Gurutta’

Gurutta’ 63 tahun kau menghirup nafas bumi 

Gurutta’ tak terlukis lagi perjuanganmu dalam melaksanakan perintah-NYA

mengajar ummat,menuntun ummat,mengajak ummat

semua engkau laksanakan tanpa pamrih sedikitpun,tanpa kesombongan sepercikpun

semua hanya karena Ridho-NYA .

tak terhitung lagi berapa lama engkau mencurahkan Karunia-Nya kepada kami.

tak berbayang lagi perjuanganmu untuk kami

sekarang engkau telah menghadap sang pemilik semesta ini

kicau burung,deru laut,hembusan angin,

tak lagi kudengar tanda bela sungkawa bumi bagi mu

Kini tongkat perjuanganmu siap kami teruskan

lantunan doa serta ayat suci Al-Qur’an kami kirimkan kepangkuanmu

berharap malaikat menyanyikan nyanyian terindah disisimu

tersenyumlah wahai gurutta’ jasamu tak akan lenyap sedikitpun

seruanmu akan selalu menggema dipenjuru semesta

hingga hari dimana nafas tak lagi ada.

By nhuryadhy

ikhlas dimanakah engkau?

“keikhlasan akan membawa kita menuju kesuksesan”.
ungkapan ini mungkin lebih cocok untuk kita para palajar,iya nggak? kalau kita membahas tentang ikhlas,saya merasa malu pada generasi sekarang! kenapa?,coba teman-teman ku sekalian yang masih aktiv belajar disekolah,coba perhatikan betapa banyak orang-orang yang mengatasnamakan dirinya pelajar diikuti emblem sekolahnya,sekolah unggulanlah,sekolah favoritlah,sekolah RSBIlah.tapi apa? mereka yang mengatas namakan dirinya pelajar sama sekali tak menggambarkan perilaku seorang pelajar yang sesungguhnya.kesekolah hanya modal motor mahal,sepatu mahal,aksesoris mahal,uang jajan melimpah.seolah-olah sekolah sebagai ajang lomba bergaya gitu.? mesti yah gua bilang wow pada mereka?.hahaha.mereka lupa satu hal yang sangat penting yaitu Ikhlas.Kesekolah hanya datang,duduk,diam.kesekolah hanya datang cari sensasi.ke sekolah hanya atas perintah ortu.sungguh memilukan bukan? seharusnya kita kesekolah bukan karena paksaan cuy,tapi karena kemauan kita sendiri,kalau karena kemauan kita sendiri yakin,seyakin-yakinnya rasa Ikhlas itu pasti ada.dengan adanya rasa IKHLAS di hati,kita mudah menyerap,memahami apa yang guru kita jelaskan.kan kalau kita pintar,pasti smua orang akan Bangga pada kita.tapi kalau melihat kembali lagi potret pendidikan sekarang,di bandingkan dengan PENDIDIKAN zaman dulu.sepertinya ingin sekali hati ini teriak Ikhlas di manakah engkau?.dulu fasilitas dalam pembelajaran hanya seadanya, tapi pengetahuan yang mereka peroleh itu patut kita bilang wow.
sedangkan skarang fasilitas lengkap,tapi apa yang kita peroleh tidak sebanding dengan yang Ibu/bapak guru jelaskan di papan tulis.miris memang,dunia pendidikan sekarang mulai di pengaruhi oleh pengaruh-pengaruh global yang menyesatkan.hmm..Yaa Allah lindungi lah kami dari segala hal yang dapat menyesatkan kami.Yaa Allah mudahkanlah kami agar rasa Ikhlas itu slalu menyertai kami di segala perbuatan kami..aminn.

By nhuryadhy
Sampingan

GambarGambar

K.H. ABD RAHMAN AMBO DALLE

 

Dalam sejarah dilukiskan bahwa Mangkoso adalah salah satu desa yang ada di kab barru Desa yang sangat kering dengan pengetahuan agama dan di penuh dengan aroma –aroma yang bernuansa mistik..begitulah gambaran kehidupan masyarakat soppeng riaja sebelum datangnya sang pembawa kebenaran.

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap benda-benda gaib menjadi lumrah dalam lingkungan mereka. Bahkan tak kala matahari turun dari singga sana membuat desa lenyap di telan kegelapan malam. Kerap kali suara tangisan menghiasi dinginya malam,bahkan hempasan bambu dan jeritan suara jangrik silih berganti membahana dalam kekosongan……..
Lantunan ayat suci al-quran dan alunan tasbih bukan lagi menjadi makanan batin buat masyarat soppeng riaja, justru pepohonan,batu2an dan benda –benda keramat lainyalah yang menjadi tempat mereka berpijak dalam mencari ketenangam batin…..
Keresahan inilah yang dirasakan oleh raja soppeng riaja andi dagong selaku penangung jawab dalam mengkawal masyarakatnya, perasaan bimbang tak entih2nya selalu menghantui pikiran beliau, karena melihat kondisi masyarakat yang tidak sejalan lagi dengan ajaran –ajaran yang di bawah oleh nabiyullah Muhammad SAW
Akhirnya beliupun berinisiatif untuk membangun sebuah mesjid agar masyarakat soppeng riaja tidak lagi terjebak kedalam dunia mistik dan berpaling kejalan allah SWT……..namun usaha itu belum cukup untuk meyakinkan masyarakat setempat.
Namun sedikitpun dalam hati beliau tidak pernah terbesik kata2 menyerah dalam membangun dan membuka pola pikir masyarakatnya, karena apa yang beliau lakukan atas dasar cinta, sehin gga masyarakat senang dengan kepemimpinan beliau……….
Atas jasa beliau pulalah sehingga murid tercinta dari gurutta K.H. Muh As’ad bersedia meninggalkan kota sengkang dan hijrah di bumi mangkoso bu kota swaraja soppeng riaja.
K.H.abd rahman ambo Dalle atau yang lebih akrab di sapah’’ gurutta ‘’ tidak pernah lelah dalam menyebarkan kasih sayangya dan menyapa ummat, beliau dalam menegakkan pendidikan, keagamaan, social budaya melalui suatu organisasi yang bernama DDI (darud da,wah wal – irsyad ).
Begitulah sosok beliau yang peramah,penyayang, penyantun, sederhanan dan toleransi. kehadiranya di tengah masyarakat laksana matahari di pagi hari memberikan cahaya baru untuk masyarat soppeng riaja.
Mangkoso yang awalnya desa yang penuh dengan nuangsa mistik, kini berubah menjadi kota santri, kota ilmu, dan kota yang berperadaban.
Suara- suara histeris dan hempasan bambu yang silih berganti mengoncang mangkoso di malam hari, kini redup seiring dengan di kumandangkanya ayat –ayat suci al-quran dan alunan tasbih oleh santri –santri hasil didikan sang maha guru.
Karena keuketan dan ke gigihan beliau dalam menyalurkan agama islam melaului pendidikan , dakwah social dan budaya , sehinggah bukan hanya masyarakat setempat yang senang berguru kepada beliau , tetapi juga dari luar daerah yang berbondong –bondong datang ke bumi mangkoso..
Harapan dan keinginan beliau dari hari ke hari semakin menjadi kenytaan,dari tangan dingin beliau pulalah sihingga terlahir ulama –ulama terkemuka di kawasan Indonesia timur khususunya di Sulawesi selatan,salah satu di antaranya adalah anregurutta K.H.SANUSI BACO, LC. Selaku ketua MUI Selatan.
Bukan hanya itu, sekolah , madrasah dan perguruan tinggi di bawah naungan DDI sudah menyebar ke 27 propensi yang ada di Indonesi, namun untuk melakukan semua itu tidak semudah membalikan telapak tangan’
Semasa hidupnya, beliau mencurahkan sepenuhnya untuk membangun DDI baik harta maupun jiwanya, satu hal yang sering di ungkapkan beliau dalam memotivasi dan mengibarkan benderah DDI adalah’’ Semua milik saya adalah miliknya DDI,tetapi miliknya DDI bukan milik saya’’. Semoga apa yang beliau ungkapkan bukan anya menjadi hiasan didnding buat tokoh – tokoh dan pemerhati DDI, tapi jadikanlah sebagai komitmen untuk memberikan yang terbaik untuk DDI,dan jangan jadikan DDI sebagai batu koncatan untuk merai suatu jabatan..
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun berganti, akhirnya sang maha guru kini pergi untuk selamanya menghadap kepada sang maha pencipta,tepatnya pada tangal 29 november 1996.
Walaupun figur sentral DDI telah tiada, namun pemikiran dan perjuangan beliau tetap dan berkobar dan menyala dalam diri para generasi mudah yang hadir pada hari ini. Karena roh dan jiwa DDI berada dalam gengaman mereka.
Maka bentangkanlah sayapmu keseluruh pelosok negri dengan mengucapkan : LA ILAHA ILLA LLAH MUHAMMADARRASULULLAH, dan jadikanlah dakwah sebagai syiar sebagai dalam menyirami jiwa – jiwa yang padam.
‘’wahai pewaris DDI, jangan pernah menyerah , berdiri dan bangkitlah sekalipun badai menerjam dan gelombang angin yang menerpa kalian.Wahai pewaris DDI,jangan pernah ragu,jangan pernah takut, jangan pernah bimbang untuk membangun sebuah peradaban baru dan perubahan untuk DDI, buktikan pada dunia dengan melukiskan namamu sebagai sejarah baru,harapan baru dalam bingkai emas sebagai pelopor perdamaian, dan jadikanlah AL-Quran dan Asunnah sebagai pedoman untuk menahkodai perjalananmu,dan jadikanlah DDI sebagai wadah untuk menaungi ummat dalam menyelesaikan persoalan – persoalan yang melanda bangsa kita .amin ya rabbal alamin
Hidup DDI, jayalah untuk selamanya….

By nhuryadhy

Resensi novel layla majnun

Judul 

: Layla Majnun; Pengantin Abadi dari Surga

Pengarang

: Nizami

Penerbit 

: Kayla Pustaka

Tahun

: 2009

Genre 

: Novel Sastra

Tebal

: 236 Halaman

ISBN

: 978-979-17997-2-0

 

 

 

 

 Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt. memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak? jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.
Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-‚Sang Malam. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba
waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata,  Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun
duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad embantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.
Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah
Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali
detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan
lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di
luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah
seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan
kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila,
maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan
kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap
pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah
Laila, bahkan
dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan
bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama
lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk
mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah
kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun
disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang
tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau
tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu
“Cinta dan Kekayaanâ€Â.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku
sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia
dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab,“Bukannya aku
menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan
terhormat, jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku
kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya.
Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan
iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan
kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku,
akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu
anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak
yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang
dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya.
Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan
diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,
pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta
makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu,
gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa
mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun
diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan
sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai
kesamaan dengan yang dimiliki Laila.
Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya
punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip
Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,
Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu
hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang
dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha
mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya
sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga
akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini,
ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah
dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang
menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah,
tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para
Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal
saja,â€ÂTinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa,
cintaku dan kekasihku tetap hidup.†Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi
yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang
banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia
tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal
direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal
didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang
Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya.
Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa
Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan
bumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada
sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan
rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya
compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak
beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di
kakinya. “Hus†katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.†Kemudian, ia mengedarkan
pandangan ke arah kejauhan.
Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa
yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu
bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya
dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan
menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam
kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga
lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas
itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui
bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas
seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang
musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada
Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang
musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya,
sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir
ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan
bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk
menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah
Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya
terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar
Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami, jerit sang
ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat
persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai
ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong
lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan
beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk
mencinta. Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan
terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani
situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh
keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat
Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia
berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah
syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia
diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas
kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam
potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara
demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang
mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu
bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya
melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu
tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan
kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah
seorang ksatria gagah berani bernama Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam
perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat
terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia
bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua
kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya!
Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan
ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak
orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan
pesan kepada Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan
putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin
membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah
bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila ituâ€Â.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan
pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit
dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka
dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa
ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa
kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka? Karena sedemikian
bersimpati kepada Majnun, Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia
nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya
menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan
serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari
ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja
menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui
perkawinan itu.
Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih
senang mati ketimbang kawin dengan orang itu. Akan tetapi, tangisan dan
permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja
keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila
merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa
mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri, katanya. “Karena
itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin,
masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia. Sekalipun mendengar
kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa
waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa
Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan
meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat
hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut
menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang
berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya
ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan
ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus
tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah
menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas
perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya
meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku,
sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah
lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya
akan memanggil-manggil namamu, Lailaâ€Â.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda
pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam
hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian
lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu
ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau
membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu . “Kini, aku harus
menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik
orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk
cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap
tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang
sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat
binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan
syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya
pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.
Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai
kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
sanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil
mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian
dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam
sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa
pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya.
Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan
hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar
dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia
ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat
singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab
hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim
panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk
perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam,
padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama
dirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya
sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya
dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah
ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana,
yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin
membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan
dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama
bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya
hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup
bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa
bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia
masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi
untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu
kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia
akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu
malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal
dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun¦Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama
kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu,
ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri
selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju
desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas
tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar
kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya,
per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal
dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama
setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan
kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas
kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu
adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di
samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini
bersatu kembali.

 Kisah Layla dan Majnun ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak sekedar kisah cinta antara sepasang manusia, namun juga tingkatan cinta yang lebih tinggi, yaitu cinta kepada Sang Pencipta. Bagi sufi, tokoh Majnun mewakili gambaran seorang pecinta. Seorang hamba yang mencari Tuhan-Nya.

Cinta dapat membutakan akal sehat. Cinta dapat mengubah seseorang yang menjalani kehidupan dengan tenang dan “lurus” menjadi centang perenang. Demikian pula halnya pada diri Qays, yang mabuk kepayang pada seorang gadis seelok rembulan bernama Layla. Gayung bersambut, akan tetapi perilaku Qays yang gandrung tak tanggung-tanggung membuat keluarga Layla memilih menjaga kehormatannya dengan menjauhkan putri mereka. Makin terpukul batin Qays lantaran jantung hatinya direnggut, sehingga polahnya bagai orang bingung tak berkeputusan dan ia lebih dikenal dengan sebutan Majnun (gila).

Kisah cinta klasik buah karya Nizami (juga disebut Nizami Ganjavi) ini sudah tidak asing bagi penggemar sastra, khususnya dari Persia. Di samping telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, Layla Majnun menjadi inspirasi bagi para musisi dan seniman sastra di belahan lain dunia. Sebut saja dramawan Shakespeare dengan Romeo and Juliet-nya yang tragis.

Dalam buku ini, perjalanan Layla dan Majnun dituturkan secara lengkap. Dengan bahasa yang lembut namun bening, Nizami memaparkan bahwa tiada hari tanpa mengingat Layla bagi seorang Majnun. Syair-syair indah muncul dari mulut dan pikirannya, tetapi ia telah terlena. Ayahnya mencoba melipur lara sang putra, namun kembali dengan tangan kosong. Nawfal mengulurkan persahabatan dan berusaha mendapatkan Layla dengan kekerasan, tetapi akhirnya mengerti bahwa Majnun tak pantas dibela mati-matian. Orangtua mana pun tak akan bersedia menyerahkan buah hati mereka kepada seorang lelaki yang tidak waras, sehingga ayah Layla berkata, “…Lebih baik tubuh putriku disantap anjing daripada dipeluk iblis terkutuk berbentuk manusia ini.” (hal. 94).

Novel ini sarat dengan madah di setiap bab, sehingga mungkin meletihkan bagi pembaca yang kurang menyukai uraian puitis. Namun dengan penghayatan penerjemah dan penyunting yang layak diacungi jempol, syair demi syair menjadi elemen penting khususnya untuk menggambarkan kecamuk hati banyak karakter dalam kisah ini. Misalnya ketika Syed Omri membujuk putranya untuk pulang, “..Apa gunanya penderitaan yang tiada berkesudahan ini? Apa manfaatnya bagi dunia? Apakah kau ingin menjadi tanggul sebuah sungai kecil yang tepian-tepiannya terus dikikis oleh banjir? Apakah kau ingin menjadi gunung yang merekah oleh gempa bumi?” (hal. 133).

Perumpamaan-perumpamaan yang digunakan dalam novel ini menjadi suplai pembelajaran baru dalam berolah diksi, misalnya “anting-anting jiwaku” dan “Akulah debu yang menempel di kakimu”. Nuansa Persia yang dibawa serta Layla Majnun terjaga sangat baik.

Dari segi cerita, bukan keretakan batin Layla dan Majnun itu sendiri yang meruntuhkan airmata saya. Saya berpihak pada Syed Omri, yang terkoyak-koyak sanubarinya lantaran putra kesayangan memilih menggelandang tanpa benang selembar pun di antara para satwa rimba daripada berbakti kepada orangtua. Bahkan ketika ayah tercintanya ini wafat, Majnun hanya bisa menangis. Toh ia bersikeras memprioritaskan asmara kendati Layla telah menjadi istri orang. Sungguh, cinta bisa menjadi teramat egois dan kejam. (rini)

Yang menarik, di cover belakangnya tertulis

‘diterbitkan di seluruh dunia, sejak 1188 hingga sekarang’

 

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak syair yang dibuat, lagu yangdiciptakan, drama dan film yang dipentaskan, kajian dan diskusi yang digelar. Belum ada yang menyamai kepopuleran layla-majnun. Belum pernah ada kisah tercatat dalam sejarah ketulusan cinta melebihi cinta layla pada majnun dan cinta majnun pada layla. Bahkan menurut beberapa sumber, cerita romeo dan Juliet karya William shakespear pun memperoleh ilham dari karya nizami dari Ganjavi ini.

By nhuryadhy

Manchester united

 

Manchester United
Logo Manchester United
Nama lengkap Manchester United Football Club
Julukan The Red Devils[1]
Didirikan 1878, dengan nama Newton Heath LYR F.C.
Stadion Old Trafford
(Kapasitas: 75.957[2][3])
Pemilik Bendera Amerika Serikat Keluarga Glazer
Wakil ketua Bendera Amerika Serikat Joel dan Avram Glazer
Manajer Sir Alex Ferguson
Liga Liga Utama Inggris
Posisi 2011–12 ke-2, Liga Utama Inggris
Situs web Situs web resmi klub
 
   
Berkas:Soccerball current event.svg Musim ini

Manchester United F.C. (biasa disingkat Man Utd, Man United atau hanya MU) adalah sebuah klub sepak bola papan atas di Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester,
Dibentuk sebagai Newton Heath L&YR F.C. pada 1878 sebagai tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath, namanya berganti menjadi Manchester United pada 1902.
Meski sejak dulu telah termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, barulah sejak 1993 Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson – dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool F.C. pada pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership pada tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan dua belas kali merebut trofi juara.
Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008).
Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 22 trofi besar – jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. Mereka telah memenangi 19 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea F.C. di final. Mereka juga memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali.[4] Pada 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA.
Pada 12 Mei 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer menjadi pemilik klub dengan membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar) diikuti dengan banyak protes dari para pendukung fanatik.

By nhuryadhy

tingkatkan cara belajar anda

 

kawan-kawan patutlah kita bersyukur kepada Allah,mengapa?sadarkah kita akan ni,mat yang Allah berikan kepada kita?ya,jika kita sadar tentunya kita akan mensyukurinya bukan?.apalagi jika kita masih duduk di bangku sekolah.maka sepantasnyalah kita banyak-banyak bertrima kasih  kepada Allah karena atas rezki yang diberikan Allah kepada orangtua kita sehingga mereka mampu membiayai kita untuk sekolah.cobalah kita pikirkan.kita ini beruntung karena kita masih bisa sekolah.coba kita lihat saudara-saudara kita yang kurang beruntung hari-harinya ia habiskan hanya untuk mencari sesuap nasi.ada juga yang mampu,tapi tidak mampu ke sekolah karena sakit.jadi wujud rasa syukur kita kepada sang pemilik segala Ilmu ialah dengan cara meningkatkan cara belajar kita,menggali Ilmu lebih banyak lagi di manapun kita belajar dan siapapun guru kita.ingatalah tak ada kebahagiaan lebih Indah di Dunia ini selain Punya Ilmu dan Iman yang tinggi..

By nhuryadhy

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

By nhuryadhy